1.
PENGERTIAN SISTEM KOLOID
Apabila kita mencampurkan gula dengan air, ternyata gula larut dan kita
memperoleh larutan gula. Di dalam larutan, zat terlarut tersebar dalam bentuk partikel
yang sangat kecil, sehingga tidak dapat dibedakan lagi dari mediumnya walaupun
menggunakan mikroskop ultra. Larutan bersifat kontinu dan merupakan sistem satu
fasa (homogen). Ukuran partikel zat terlarut kurang dari 1 nm (1 nm = 10–9 m).
Larutan bersifat stabil (tidak memisah) dan tidak dapat disaring. Di lain
pihak, jika kita mencampurkan tepung terigu dengan air, ternyata tepung terigu
tidak larut. Walaupun campuran ini diaduk, lambat laun tepung terigu akan memisah
(mengalami sedimentasi). Campuran seperti ini kita sebut suspensi.
Suspensi bersifat heterogen dan tidak kontinu, sehingga merupakan
sistem dua fasa. Ukuran partikel tersuspensi lebih besar dari 100 nm. Suspensi
dapat dipisahkan dengan penyaringan. Selanjutnya, jika kita mencampurkan susu
(misalnya, susu instan) dengan air, ternyata susu “larut” tetapi “larutan” itu
tidak bening melainkan keruh. Jika didiamkan, campuran itu tidak memisah dan
juga tidak dapat disaring (hasil penyaringan tetap keruh). Secara makroskopis
campuran ini tampak homogen. Akan tetapi, jika diamati dengan mikroskop ultra,
ternyata masih dapat dibedakan partikel-partikel susu yang tersebar di dalam
air. Campuran seperti inilah yang disebut koloid. Ukuran partikel koloid
berkisar antara 1 nm – 100 nm. Jadi, koloid tergolong campuran heterogen dan
merupakan sistem dua fasa.
2.
KOMPONEN PENYUSUN KOLOID
Sistem koloid tersusun atas dua komponen, yaitu fasa terdispersi dan
medium dispersi atau fasa pendispersi. Fasa terdispersi bersifat diskontinu
(terputus-putus), sedangkan medium dispersi bersifat kontinu. Pada campuran
susu dengan air yang disebut di atas, fasa terdispersi adalah susu, sedangkan
medium dispersi adalah air. Perbandingan sifat antara larutan, koloid, dan
suspensi disimpulkan dalam
tabel berikut ini.
|
Larutan
(Dispersi Molekuler)
|
Koloid
(Dispersi Koloid)
|
Suspensi
(Dispersi Kasar)
|
|
1) Homogen, tak dapat dibedakan
walaupun menggunakan mi-
kroskop ultra
2) Semua partikel berdimensi (pan-
jang, lebar, atau tebal) kurang
dari 1 nm
3) Satu fasa
4) Stabil
5) Tidak dapat disaring
Contoh:
larutan gula, larutan garam, spiritus,
alkohol 70%, larutan cuka, air laut,
udara yang bersih, dan bensin
|
1) Secara makroskopis bersifat ho-
mogen, tetapi heterogen jika
diamati dengan mikroskop ultra
2) Partikel berdimensi antara 1 nm
sampai 100 nm
3) Dua fasa
4) Pada umumnya stabil
5) Tidak dapat disaring, kecuali
dengan penyaringan ultra
Contoh:
sabun, susu, santan, jeli, selai, men-
tega, dan mayones
|
1) Heterogen
2) Salah satu atau semua dimensi
partikelnya lebih besar dari 100
nm
3) Dua fasa
4) Tidak stabil
5) Dapat disaring
Contoh:
air sungai yang keruh, campuran air
dengan pasir, campuran kopi de-
ngan air, dan campuran minyak
dengan air
|
3.
JENIS-JENIS KOLOID
Telah kita ketahui bahwa sistem koloid terdiri atas dua fasa, yaitu
fasa
terdispersi dan fasa pendispersi (medium dispersi). Sistem koloid dapat
dikelom-
pokkan berdasarkan jenis fasa terdispersi dan fasa pendispersinya.
Koloid yang mengandung fasa terdispersi padat disebut sol. Jadi, ada tiga
jenis sol, yaitu sol padat (padat dalam padat), sol cair (padat dalam
cair), dan sol
gas (padat dalam gas). Istilah sol biasa digunakan untuk menyatakan sol
cair,
sedangkan sol gas lebih dikenal sebagai
aerosol (aerosol padat). Koloid yang
mengandung fasa terdispersi cair disebut emulsi. Emulsi juga ada tiga
jenis, yaitu
emulsi padat (cair dalam padat), emulsi cair (cair dalam cair), dan
emulsi gas (cair
dalam gas). Istilah emulsi biasa digunakan untuk menyatakan emulsi
cair, sedangkan
emulsi gas juga dikenal dengan nama
aerosol (aerosol cair). Koloid
yang
mengandung fasa terdispersi gas disebut
buih. Hanya ada dua jenis buih, yaitu
buih padat dan buih cair. Mengapa tidak ada buih gas? Istilah buih
biasa digunakan
untuk menyatakan buih cair. Dengan demikian ada 8 jenis koloid, seperti
yang
tercantum pada tabel
|
No.
|
Fasa
Terdispersi
|
Fasa
Pendispersi
|
Nama
|
Contoh
|
|
1
|
padat
|
Gas
|
aerosol
|
asap (smoke), debu di udara
|
|
2
|
padat
|
Cair
|
sol
|
sol emas, sol belerang, tinta,
cat
|
|
3
|
padat
|
Padat
|
sol padat
|
gelas berwarna, intan hitam
|
|
4
|
cair
|
Gas
|
Aerosol padat
|
kabut (fog)
|
|
5
|
cair
|
Cair
|
emulsi
|
susu, santan, minyak ikan
|
|
6
|
cair
|
Padat
|
Emulsi padat
|
jeli, mutiara, opal
|
|
7
|
gas
|
Cair
|
buih
|
buih sabun, krim kocok
|
|
8
|
gas
|
Padat
|
Buih padat
|
karet busa, batu apung
|
Aerosol
Sistem koloid dari partikel padat atau cair yang
terdispersi dalam gas disebut aerosol. Jika zat yang
terdispersi berupa zat padat, disebut aerosol padat;
jika zat yang terdispersi berupa zat cair, disebut
aerosol cair.
• Contoh aerosol padat: asap dan debu dalam
udara.
• Contoh aerosol cair: kabut dan awan.
Dewasa ini banyak produk dibuat dalam ben-
tuk aerosol, seperti semprot rambut (hair spray),
semprot obat nyamuk, parfum, cat semprot, dan
lain-lain. Untuk menghasilkan aerosol diperlukan
suatu bahan pendorong (propelan aerosol). Con-
toh bahan pendorong yang banyak digunakan
adalah senyawa klorofluorokarbon (CFC) dan
karbon dioksida.
Sol


Sistem koloid dari partikel
padat yang terdispersi dalam zat
cair disebut sol. Koloid jenis
sol
banyak kita temukan dalam kehi-
dupan sehari-hari maupun dalam
industri.
Contoh sol: air sungai (sol dari
lempung dalam air), sol sabun, sol
detergen, sol kanji, tinta tulis, dan
cat.

Emulsi
Sistem koloid dari zat cair yang ter-
dispersi dalam zat cair lain disebut emulsi.
Syarat terjadinya emulsi ini adalah dua jenis
zat cair itu tidak saling melarutkan. Emulsi
dapat digolongkan ke dalam dua bagian,
yaitu emulsi minyak dalam air (M/A) dan
emulsi air dalam minyak (A/M). Dalam hal
ini, minyak diartikan sebagai semua zat cair
yang tidak bercampur dengan air.
• Contoh emulsi minyak dalam air (M/A): santan, susu, kosmetik
pembersih
wajah (milk cleanser) dan lateks.
• Contoh emulsi air dalam minyak (A/M): mentega, mayones, minyak bumi,
dan minyak ikan.
Emulsi terbentuk karena pengaruh suatu pengemulsi (emulgator). Contoh-
nya adalah sabun yang dapat mengemulsikan minyak ke dalam air. Jika
campuran minyak dengan air dikocok, maka akan diperoleh suatu campuran
yang segera memisah jika didiamkan. Akan tetapi, jika sebelum dikocok
di-
tambahkan sabun atau detergen, maka diperoleh campuran yang stabil yang
kita sebut emulsi. Contoh lainnya adalah kasein dalam susu dan kuning
telur
dalam mayones.
Buih
Sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair disebut buih.
Seperti
halnya dengan emulsi, untuk menstabilkan buih diperlukan zat pembuih,
misalnya sabun, deterjen, dan protein. Buih dapat dibuat dengan
mengalirkan
suatu gas ke dalam zat cair yang mengandung pembuih.
Buih digunakan pada berbagai proses, misalnya buih sabun pada pe-
ngolahan bijih logam, pada alat pemadam kebakaran, dan lain-lain.
Adakalanya
buih tidak dikehendaki. Zat-zat yang dapat memecah atau mencegah buih,
antara lain eter, isoamil alkohol, dan lain-lain.

Gel
Koloid yang setengah kaku (antara padat dan
cair) disebut gel. Contoh: agar-agar, lem kanji, selai,
gelatin, gel sabun, dan gel silika. Gel dapat terbentuk
dari suatu sol yang zat terdispersinya mengadsorpsi
medium dispersinya, sehingga terjadi koloid yang
agak padat.
4.
KOLOID DALAM KEHIDUPAN
SEHARI-HARI
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan bahan-bahan kimia
berbentuk koloid. Bahan-bahan kimia tersebut dibuat oleh industri.
Mengapa harus
koloid? Oleh karena koloid merupakan satu-satunya cara untuk menyajikan
suatu
campuran dari zat-zat yang tidak saling melarutkan secara “homogen” dan
stabil
(pada tingkat makroskopis atau tidak mudah rusak).

Industri Kosmetik
Bahan kosmetik, seperti foundation, pembersih
wajah, sampo, pelembap badan, deodoran umumnya
berbentuk koloid yaitu emulsi.
Industri
Tekstil
Pewarna tekstil berbentuk koloid karena mem-
punyai daya serap yang tinggi, sehingga dapat
melekat pada tekstil.

Industri Sabun dan Detergen
Sabun dan detergen merupakan emulgator untuk
membentuk emulsi antara kotoran (minyak) dengan
air, sehingga sabun dan detergen dapat member-
sihkan kotoran, terutama kotoran dari minyak.


Industri Makanan
Banyak makanan dikemas dalam bentuk koloid
untuk kestabilan dalam jangka waktu cukup lama.
Dapatkah Anda menyebutkan contoh koloid dalam
industri makanan?

5.
SIFAT-SIFAT SISTEM KOLOID
A.
EFEK TYNDALL
Bagaimanakah cara mengenali sistem koloid? Salah satu cara yang sangat
sederhana adalah dengan menjatuhkan seberkas cahaya (transparan),
sedangkan
koloid menghamburkannya. Oleh karena itu, berkas cahaya yang melalui
koloid
dapat diamati dari arah samping, walaupun partikel koloidnya sendiri
tidak
tampak. Jika partikel terdispersinya juga kelihatan, maka sistem itu
bukan koloid
melainkan suspensi.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita se-
ring mengamati efek Tyndall ini, antara lain:
1. Sorot lampu mobil pada malam yang
berkabut.
2. Sorot lampu proyektor dalam gedung
bioskop yang berasap atau berdebu.
3. Berkas sinar matahari melalui celah
daun pohon-pohon pada pagi hari yang
berkabut.
B.
GERAK BROWN
Telah disebutkan bahwa partikel koloid dapat menghamburkan cahaya.
Jika diamati dengan mikroskop ultra, di mana arah cahaya tegak lurus
dengan
sumbu mikroskop, akan terlihat partikel koloid senantiasa bergerak
terus-
menerus dengan gerak patah-patah (gerak zig-zag). Gerak zig-zag
partikel
koloid ini disebut gerak Brown, sesuai dengan nama penemunya, seorang
ahli
biologi Robert Brown berkebangsaan Inggris.
Dalam suspensi tidak terjadi gerak Brown karena ukuran partikel cukup
besar, sehingga tumbukan yang dialaminya setimbang. Partikel zat
terlarut
juga mengalami gerak Brown, tetapi tidak dapat diamati. Makin tinggi
suhu
makin cepat gerak Brown karena energi kinetik molekul medium meningkat,
sehingga menghasilkan tumbukan yang lebih kuat.
Gerak Brown merupakan salah satu faktor yang menstabilkan koloid. Oleh
karena bergerak terus-menerus, maka partikel koloid dapat mengimbangi gaya
gravitasi, sehingga tidak mengalami sedimentasi.
C.
MUATAN KOLOID
1. Elektroforesis
Elektroforesis adalah pergerakan partikel koloid dalam medan listrik.
Apabila ke dalam sistem koloid dimasukkan dua batang elektrode,
kemudian
dihubungkan dengan sumber arus searah, maka partikel koloid akan
bergerak
ke salah satu elektrode bergantung pada jenis muatannya. Koloid
bermuatan
negatif akan bergerak ke anode (elektrode positif), sedangkan koloid
yang
bermuatan positif bergerak ke katode (elektrode negatif). Dengan
demikian,
elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan koloid.
2. Adsorpsi
Bagaimanakah partikel koloid mendapatkan muatan listrik? Partikel
koloid memiliki kemampuan menyerap ion atau muatan listrik pada
permukaannya. Oleh karena itu, partikel koloid menjadi bermuatan
listrik.
Penyerapan pada permukaan ini disebut adsorpsi (jika penyerapan sampai
ke bawah permukaan disebut absorpsi). Sebagai contoh, penyerapan air oleh
kapur tulis). Sol Fe(OH)3
dalam air mengadsorpsi ion
positif sehingga
bermuatan positif, sedangkan sol As2S3
mengadsorpsi ion negatif sehingga
bermuatan negatif
Muatan koloid juga merupakan faktor yang menstabilkan koloid, di
samping gerak Brown. Oleh karena bermuatan sejenis maka
partikel-partikel
koloid saling tolak-menolak, sehingga terhindar dari pengelompokan
antar-
sesama partikel koloid itu (jika partikel koloid itu saling bertumbukan
dan
kemudian bersatu, maka lama-kelamaan dapat terbentuk partikel yang
cukup
besar dan akhirnya mengendap).
Sifat adsorpsi koloid ini telah dipergunakan dalam bidang lain,
misalnya
pada proses pemurnian gula tebu, pembuatan obat norit, dan proses pen-
jernihan air minum.
3. Koagulasi
Apabila muatan suatu koloid dilucuti, maka kestabilan koloid tersebut
akan berkurang dan dapat menyebabkan koagulasi atau penggumpalan.
Pelucutan muatan koloid dapat terjadi pada sel elektroforesis atau jika
elektrolit ditambahkan ke dalam sistem koloid.
Koagulasi koloid karena penambahan elektrolit terjadi sebagai berikut.
Koloid yang bermuatan negatif akan menarik ion positif (kation),
sedangkan
koloid yang bermuatan positif akan menarik ion negatif (anion). Ion-ion
tersebut akan membentuk selubung lapisan kedua. Apabila selubung
lapisan
kedua itu terlalu dekat, maka selubung itu akan menetralkan muatan
koloid
sehingga terjadi koagulasi. Makin besar muatan ion makin kuat daya
tarik-
menariknya dengan partikel koloid, sehingga makin cepat terjadi
koagulasi.
Beberapa contoh koagulasi dalam kehidupan sehari-hari dan industri
sebagai berikut:
a. Pembentukan delta di muara sungai terjadi
karena koloid tanah liat (lempung) dalam air
sungai mengalami koagulasi ketika bercampur
dengan elektrolit dalam air laut.
b. Karet dalam lateks digumpalkan dengan me-
nambahkan asam format.
c. Lumpur koloidal dalam sungai dapat digumpal-
dalam air sungai biasanya bermuatan negatif,
sehingga akan digumpalkan oleh ion Al3+ dari
tawas (aluminium sulfat).
d. Asap atau debu dari pabrik dan industri dapat
digumpalkan dengan alat koagulasi listrik dari
Cottrel.
Asap dari pabrik sebelum meninggalkan cerobong asap dialirkan melalui
ujung-ujung logam yang tajam dan bermuatan pada tegangan tinggi (20.000
sampai 75.000 volt). Ujung-ujung yang runcing akan mengionkan molekul-
molekul dalam udara. Ion-ion tersebut akan diadsorpsi oleh partikel
asap
dan menjadi bermuatan. Selanjutnya, partikel bermuatan itu akan
tertarik
dan diikat pada elektrode yang lainnya. Pengendap Cottrel ini banyak
di-
gunakan dalam industri untuk dua tujuan, yaitu mencegah polusi udara
oleh
buangan beracun dan memperoleh kembali debu yang berharga (misalnya
debu logam).
4. Pengolahan Air Bersih
Pengolahan air bersih didasarkan pada sifat-sifat koloid, yaitu
koagulasi
dan adsorpsi. Air sungai atau air sumur yang keruh mengandung lumpur
koloidal dan barang kali juga zat-zat warna, zat pencemar, seperti
limbah
detergen, dan pestisida. Bahan-bahan yang diperlukan untuk pengolahan
air adalah tawas (aluminium sulfat), pasir, klorin atau kaporit, kapur
tohor,
dan karbon aktif. Tawas berguna untuk menggumpalkan lumpur koloidal
sehingga lebih mudah disaring. Tawas juga membentuk koloid Al(OH)3
yang
dapat mengadsorpsi zat-zat warna atau zat-zat pencemar, seperti
detergen
dan pestisida. Apabila tingkat kekeruhan air yang diolah terlalu
tinggi, maka
digunakan karbon aktif di samping tawas. Pasir berfungsi sebagai
penyaring.
Klorin atau kaporit berfungsi sebagai pembasmi hama (sebagai disinfektan),
sedangkan kapur tohor berguna untuk menaikkan pH, yaitu untuk menetral-
Pengolahan air bersih di kota-kota besar pada prinsipnya sama dengan
pengolahan air sederhana yang dijelaskan di atas. Mula-mula air sungai
dipompakan ke dalam bak prasedimentasi. Di sini lumpur dibiarkan
mengendap karena pengaruh gravitasi. Lumpur dibuang dengan pompa,
sedangkan air selanjutnya dialirkan ke dalam bak ventury. Pada tahap
ini
dicampurkan tawas dan gas klorin (preklorinasi). Pada air baku yang
kekeruhan dan pencemarannya tinggi, perlu dibubuhkan karbon aktif yang
berguna untuk menghilangkan bau, warna, rasa, dan zat organik yang
terkandung dalam air baku .
Dari bak ventury, air baku
yang telah dicampur
dengan bahan-bahan kimia dialirkan ke dalam accelator. Di dalam bak
accelator ini terjadi proses koagulasi, lumpur dan kotoran lain
menggumpal
membentuk flok-flok yang akan mengalami sedimentasi secara gravitasi.
Selanjutnya, air yang sudah setengah bersih dialirkan ke dalam bak
saringan
pasir. Pada saringan ini, sisa-sisa flok akan tertahan. Dari bak pasir
diperoleh
air yang sudah hampir bersih. Air yang sudah cukup bersih ini ditampung
dalam bak lain yang disebut
siphon, di mana ditambahkan kapur untuk
menaikkan pH dan gas klorin (postklorinasi) untuk mematikan hama . Dari
bak siphon, air yang sudah memenuhi standar air bersih selanjutnya
dialirkan
ke dalam reservoar, kemudian ke konsumen.
D.
KOLOID PELINDUNG
Pada beberapa proses, suatu koloid harus dipecahkan. Misalnya,
koagulasi
lateks. Di lain pihak, koloid perlu dijaga supaya tidak rusak. Suatu
koloid
dapat distabilkan dengan menambahkan koloid lain yang disebut koloid
pelindung. Koloid pelindung ini akan membungkus partikel zat
terdispersi,
sehingga tidak dapat lagi mengelompok.
Contoh:
1. Pada pembuatan es krim digunakan
gelatin untuk mencegah pemben-
tukan kristal besar es atau gula.
2. Cat dan tinta dapat bertahan lama
karena menggunakan suatu koloid
3. Zat-zat pengemulsi, seperti sabun dan
detergen, juga tergolong koloid
pelindung.
E.
DIALISIS
Pada pembuatan suatu koloid, sering kali terdapat ion-ion yang dapat
mengganggu kestabilan koloid tersebut. Ion-ion pengganggu ini dapat
dihilangkan dengan suatu proses yang disebut dialisis. Dalam proses
ini, sistem
koloid dimasukkan ke dalam suatu kantong koloid, lalu kantong koloid
itu
dimasukkan ke dalam bejana yang berisi air mengalir. Kantong koloid
terbuat
dari selaput semipermiabel,
yaitu selaput yang dapat melewatkan partikel-
partikel kecil, seperti ion-ion atau molekul sederhana, tetapi menahan
koloid.
Dengan demikian, ion-ion keluar dari kantong dan hanyut bersama air.
6.
KOLOID LIOFIL DAN KOLOID
LIOFOB
Koloid yang memiliki medium dispersi cair dibedakan atas koloid liofil
dan
koloid liofob. Suatu koloid disebut koloid liofil apabila terdapat gaya tarik-menarik
yang cukup besar antara zat terdispersi dengan mediumnya. Liofil
berarti suka
cairan (Yunani: lio = cairan, philia = suka). Sebaliknya, suatu koloid
disebut koloid
liofob jika gaya
tarik-menarik tersebut tidak ada atau sangat lemah. Liofob berarti
tidak suka cairan (Yunani: lio = cairan, phobia = takut atau benci).
Jika medium
dispersi yang dipakai adalah air, maka kedua jenis koloid di atas
masing-masing
disebut koloid hidrofil dan koloid hidrofob.
Contoh:
• Koloid hidrofil: sabun, detergen, agar-agar, kanji, dan gelatin.
• Koloid hidrofob: sol belerang, sol Fe(OH)3, sol-sol
sulfida, dan sol-sol logam.
Koloid liofil/hidrofil lebih mantap dan lebih kental daripada koloid
liofob/
hidrofob. Butir-butir koloid liofil/hidrofil membungkus diri dengan
cairan/air
mediumnya. Hal ini disebut solvatasi/hidratasi. Dengan cara itu
butir-butir koloid
tersebut terhindar dari agregasi (pengelompokan). Hal demikian tidak
terjadi pada
koloid liofob/hidrofob. Koloid liofob/hidrofob mendapat kestabilan
karena meng-
adsorpsi ion atau muatan listrik. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa
muatan koloid
menstabilkan sistem koloid.
Sol hidrofil tidak akan menggumpal pada penambahan sedikit elektrolit.
Zat
terdispersi dari sol hidrofil dapat dipisahkan dengan pengendapan atau
penguapan.
Apabila zat padat tersebut dicampurkan kembali dengan air, maka dapat
membentuk
kembali sol hidrofil. Dengan perkataan lain, sol hidrofil bersifat reversibel.
Sebaliknya, sol hidrofob dapat mengalami koagulasi pada penambahan
sedikit
elektrolit. Sekali zat terdispersi telah dipisahkan, tidak akan
membentuk sol lagi
jika dicampur kembali dengan air. Perbedaan sol hidrofil dengan sol
hidrofob
disimpulkan sebagai berikut.
|
No.
|
Sol Hidrofil
|
Sol Hidrofob
|
|
1
2
3
4
5
6
|
Mengadsorpsi
mediumnya
Dapat dibuat
dengan konsentrasi yang relatif besar
Tidak mudah
digumpalkan dengan penambahan elektrolit
Viskositas
lebih besar daripada mediumnya
Bersifat
reversibel
Efek Tyndall
lemah
|
Tidak
mengadsorpsi mediumnya
Hanya stabil
pada konsentrasi kecil
Mudah
menggumpal pada penambahan elektrolit
Viskositas
hampir sama dengan mediumnya
Tidak
reversibel
Efek Tyndall
lebih jelas
|
7.
PEMBUATAN SISTEM KOLOID
Sistem koloid dapat dibuat dengan pengelompokan (agregasi) partikel
larutan
sejati atau menghaluskan bahan dalam bentuk kasar, kemudian diaduk
dengan
medium pendispersi. Cara yang pertama disebut cara kondensasi, sedangkan
yang
kedua disebut cara dispersi.
A.
CARA KONDENSASI
Dengan cara kondensasi, partikel larutan sejati (molekul atau ion) ber-
gabung menjadi partikel koloid. Cara ini dapat dilakukan dengan
reaksi-reaksi
kimia, seperti reaksi redoks, hidrolisis, dan dekomposisi rangkap, atau
dengan
pergantian pelarut.
1. Reaksi Redoks
Reaksi redoks adalah reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi.
Contoh 1:
Pembuatan sol belerang dari reaksi antara hidrogen sulfida (H2S)
dengan
belerang dioksida (SO2), yaitu dengan mengalirkan gas H2S
ke dalamlarutan SO2.
2 H2S(g) + SO2(aq) ⎯⎯ → 2 H2O(l) + 3
S (koloid)
Contoh 2:
Pembuatan sol emas dari reaksi antara larutan HAuCl4 dengan
larutanK2CO3
dan HCHO (formaldehida).
2 HAuCl4
(aq)+6 K2CO3
(aq) + 3 HCHO(aq) ⎯⎯ →2 Au(koloid) + 5 CO2(g)
+ 8 KCl(aq) + KHCO3(aq) + 2 H2O(l)
2. Hidrolisis
Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air.
Contoh:
Pembuatan sol Fe(OH)3 dari hidrolisis FeCl3
. Apabila ke dalam air mendidih ditambahkan larutan FeCl3
, maka akan terbentuk sol Fe(OH)3.
FeCl3(aq) + 3 H2O(l)
⎯⎯ → Fe(OH)3(koloid) + 3
HCl(aq)
3. Dekomposisi Rangkap
Contoh 1:
Sol As2S3
dapat dibuat dari reaksi antara
larutan H3AsO3 dengan larutanH2S.
2 H3AsO3(aq)
+ 3 H2S(aq) ⎯⎯ → As2S3(koloid)
+ 6 H2O(l)
Contoh 2:
Sol AgCl dapat dibuat dengan mencampurkan larutan perak nitrat encer
dengan larutan HCl encer.
AgNO3(aq) + HCl(aq) ⎯⎯ → AgCl(koloid) + HNO3(aq)
4. Penggantian Pelarut
Selain dengan cara-cara kimia seperti di atas, koloid juga dapat
terjadi
dengan penggantian pelarut.
Contoh:
Apabila larutan jenuh kalsium asetat dicampur dengan alkohol, maka
akan terbentuk suatu koloid berupa gel.
B.
CARA DISPERSI
Dengan cara dispersi, partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid.
Cara
dispersi dapat dilakukan secara mekanik, peptisasi, atau dengan
loncatan bunga
listrik (cara busur Bredig).
1. Cara
Mekanik
Menurut cara ini, butir-butir kasar digerus dengan lumping atau peng-
giling koloid sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu, kemudian
diaduk
dengan medium dispersi.
Contoh:
Sol belerang dapat dibuat dengan menggerus serbuk belerang bersama-
sama dengan suatu zat inert (seperti gula pasir), kemudian mencampur
serbuk halus itu dengan air.
2. Cara Peptisasi
Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari
suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah). Zat
pemeptisasi memecahkan butir-butir kasar menjadi butir-butir koloid.
Istilah
peptisasi dikaitkan dengan
peptonisasi, yaitu proses pemecahan protein
(polipeptida) yang dikatalisis oleh enzim pepsin.
Contoh:
Agar-agar dipeptisasi oleh air, nitroselulosa oleh aseton, karet oleh
bensin, dan lain-lain. Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S dan
endapan
Al(OH)3 oleh AlCl3.
3. Cara Busur Bredig
Cara busur Bredig digunakan untuk membuat sol-sol logam. Logam
yang akan dijadikan koloid digunakan sebagai elektrode yang dicelupkan
dalam medium dispersi, kemudian diberi loncatan listrik di antara kedua
ujungnya. Mula-mula atom-atom logam akan terlempar ke dalam air, lalu
atom-atom tersebut mengalami kondensasi, sehingga membentuk partikel
koloid. Jadi, cara busur ini merupakan gabungan cara dispersi dan cara
kondensasi.
C.
KOLOID ASOSIASI
Berbagai jenis zat, seperti sabun dan detergen, larut dalam air tetapi
tidak
membentuk larutan, melainkan koloid. Molekul sabun atau detergen terdiri
atas bagian yang polar (disebut
kepala) dan bagian yang nonpolar (disebut
ekor).

Kepala sabun adalah gugus yang hidrofil (tertarik ke air), sedangkan
gugus
hidrokarbon bersifat hidrofob (takut air). Jika sabun dilarutkan dalam
air, maka
molekul-molekul sabun akan mengadakan asosiasi karena gugus nonpolarnya
(ekor) saling tarik-menarik, sehingga terbentuk partikel koloid (lihat
gambar
9.13).
Daya pengemulsi dari sabun dan detergen juga disebabkan oleh aksi yang
sama. Gugus nonpolar dari sabun akan menarik partikel kotoran (lemak)
dari
bahan cucian, kemudian mendispersikannya ke dalam air. Sebagian bahan
pencuci, sabun, dan detergen bukan saja berfungsi sebagai pengemulsi,
tetapi
juga sebagai pembasah atau penurun tegangan permukaan. Air yang me-
ngandung sabun atau detergen mempunyai tegangan permukaan yang lebih
rendah, sehingga lebih mudah meresap pada bahan cucian.
