Senin, 26 November 2012

SISTEM KOLOID


1. PENGERTIAN SISTEM KOLOID

Apabila kita mencampurkan gula dengan air, ternyata gula larut dan kita memperoleh larutan gula. Di dalam larutan, zat terlarut tersebar dalam bentuk partikel yang sangat kecil, sehingga tidak dapat dibedakan lagi dari mediumnya walaupun menggunakan mikroskop ultra. Larutan bersifat kontinu dan merupakan sistem satu fasa (homogen). Ukuran partikel zat terlarut kurang dari 1 nm (1 nm = 10–9 m). Larutan bersifat stabil (tidak memisah) dan tidak dapat disaring. Di lain pihak, jika kita mencampurkan tepung terigu dengan air, ternyata tepung terigu tidak larut. Walaupun campuran ini diaduk, lambat laun tepung terigu akan memisah (mengalami sedimentasi). Campuran seperti ini kita sebut  suspensi.
Suspensi bersifat heterogen dan tidak kontinu, sehingga merupakan sistem dua fasa. Ukuran partikel tersuspensi lebih besar dari 100 nm. Suspensi dapat dipisahkan dengan penyaringan. Selanjutnya, jika kita mencampurkan susu (misalnya, susu instan) dengan air, ternyata susu “larut” tetapi “larutan” itu tidak bening melainkan keruh. Jika didiamkan, campuran itu tidak memisah dan juga tidak dapat disaring (hasil penyaringan tetap keruh). Secara makroskopis campuran ini tampak homogen. Akan tetapi, jika diamati dengan mikroskop ultra, ternyata masih dapat dibedakan partikel-partikel susu yang tersebar di dalam air. Campuran seperti inilah yang disebut koloid. Ukuran partikel koloid berkisar antara 1 nm – 100 nm. Jadi, koloid tergolong campuran heterogen dan merupakan sistem dua fasa.

2. KOMPONEN PENYUSUN KOLOID

Sistem koloid tersusun atas dua komponen, yaitu fasa terdispersi dan medium dispersi atau fasa pendispersi. Fasa terdispersi bersifat diskontinu (terputus-putus), sedangkan medium dispersi bersifat kontinu. Pada campuran susu dengan air yang disebut di atas, fasa terdispersi adalah susu, sedangkan medium dispersi adalah air. Perbandingan sifat antara larutan, koloid, dan suspensi disimpulkan dalam
tabel berikut ini.





Larutan
(Dispersi Molekuler)
Koloid
 (Dispersi Koloid)
Suspensi
 (Dispersi Kasar)
1) Homogen, tak dapat dibedakan
walaupun menggunakan mi-
kroskop ultra
2) Semua partikel berdimensi (pan-
jang, lebar, atau tebal) kurang
dari 1 nm
3) Satu fasa
4) Stabil
5) Tidak dapat disaring
Contoh:
larutan gula, larutan garam, spiritus,
alkohol 70%, larutan cuka, air laut,
udara yang bersih, dan bensin
1) Secara makroskopis bersifat ho-
mogen, tetapi heterogen jika
diamati dengan mikroskop ultra
2) Partikel berdimensi antara 1 nm
sampai 100 nm
3) Dua fasa
4) Pada umumnya stabil
5) Tidak dapat disaring, kecuali
dengan penyaringan ultra
Contoh:
sabun, susu, santan, jeli, selai, men-
tega, dan mayones
1) Heterogen
2) Salah satu atau semua dimensi
partikelnya lebih besar dari 100
nm
3) Dua fasa
4) Tidak stabil
5) Dapat disaring
Contoh:
air sungai yang keruh, campuran air
dengan pasir, campuran kopi de-
ngan air, dan campuran minyak
dengan air

3. JENIS-JENIS KOLOID

Telah kita ketahui bahwa sistem koloid terdiri atas dua fasa, yaitu fasa
terdispersi dan fasa pendispersi (medium dispersi). Sistem koloid dapat dikelom-
pokkan berdasarkan jenis fasa terdispersi dan fasa pendispersinya.
Koloid yang mengandung fasa terdispersi padat disebut  sol. Jadi, ada tiga
jenis sol, yaitu sol padat (padat dalam padat), sol cair (padat dalam cair), dan sol
gas (padat dalam gas). Istilah sol biasa digunakan untuk menyatakan sol cair,
sedangkan sol gas lebih dikenal sebagai  aerosol (aerosol padat). Koloid yang
mengandung fasa terdispersi cair disebut emulsi. Emulsi juga ada tiga jenis, yaitu
emulsi padat (cair dalam padat), emulsi cair (cair dalam cair), dan emulsi gas (cair
dalam gas). Istilah emulsi biasa digunakan untuk menyatakan emulsi cair, sedangkan
emulsi gas juga dikenal dengan nama  aerosol  (aerosol cair). Koloid yang
mengandung fasa terdispersi gas disebut  buih. Hanya ada dua jenis buih, yaitu
buih padat dan buih cair. Mengapa tidak ada buih gas? Istilah buih biasa digunakan
untuk menyatakan buih cair. Dengan demikian ada 8 jenis koloid, seperti yang
tercantum pada tabel

No.
Fasa Terdispersi
Fasa Pendispersi
Nama
Contoh
1
padat
Gas
aerosol
asap (smoke), debu di udara
2
padat
Cair
sol
sol emas, sol belerang, tinta, cat
3
padat
Padat
sol padat
gelas berwarna, intan hitam
4
cair
Gas
Aerosol padat
kabut (fog)
5
cair
Cair
emulsi
susu, santan, minyak ikan
6
cair
Padat
Emulsi padat
jeli, mutiara, opal
7
gas
Cair
buih
buih sabun, krim kocok
8
gas
Padat
Buih padat
karet busa, batu apung

Aerosol
Sistem koloid dari partikel padat atau cair yang
terdispersi dalam gas disebut aerosol. Jika zat yang
terdispersi berupa zat padat, disebut aerosol padat;
jika zat yang terdispersi berupa zat cair, disebut
aerosol cair.
• Contoh aerosol padat: asap dan debu dalam
udara.
• Contoh aerosol cair: kabut dan awan.
Dewasa ini banyak produk dibuat dalam ben-
tuk aerosol, seperti semprot rambut (hair spray),
semprot obat nyamuk, parfum, cat semprot, dan
lain-lain. Untuk menghasilkan aerosol diperlukan
suatu bahan pendorong (propelan aerosol). Con-
toh bahan pendorong yang banyak digunakan
adalah senyawa  klorofluorokarbon  (CFC) dan
karbon dioksida.







Sol
Sistem koloid dari partikel
padat yang terdispersi dalam zat
cair disebut  sol. Koloid jenis sol
banyak kita temukan dalam kehi-
dupan sehari-hari maupun dalam
industri.
Contoh sol: air sungai (sol dari
lempung dalam air), sol sabun, sol
detergen, sol kanji, tinta tulis, dan
cat.









Emulsi
Sistem koloid dari zat cair yang ter-
dispersi dalam zat cair lain disebut emulsi.
Syarat terjadinya emulsi ini adalah dua jenis
zat cair itu tidak saling melarutkan. Emulsi
dapat digolongkan ke dalam dua bagian,
yaitu emulsi minyak dalam air (M/A) dan
emulsi air dalam minyak (A/M). Dalam hal
ini, minyak diartikan sebagai semua zat cair
yang tidak bercampur dengan air.

• Contoh emulsi minyak dalam air (M/A): santan, susu, kosmetik pembersih
wajah (milk cleanser) dan lateks.
• Contoh emulsi air dalam minyak (A/M): mentega, mayones, minyak  bumi,
dan minyak ikan.
Emulsi terbentuk karena pengaruh suatu pengemulsi (emulgator). Contoh-
nya adalah sabun yang dapat mengemulsikan minyak ke dalam air. Jika
campuran minyak dengan air dikocok, maka akan diperoleh suatu campuran
yang segera memisah jika didiamkan. Akan tetapi, jika sebelum dikocok di-
tambahkan sabun atau detergen, maka diperoleh campuran yang stabil yang
kita sebut emulsi. Contoh lainnya adalah kasein dalam susu dan kuning telur
dalam mayones.





Buih
Sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair disebut buih. Seperti
halnya dengan emulsi, untuk menstabilkan buih diperlukan zat pembuih,
misalnya sabun, deterjen, dan protein. Buih dapat dibuat dengan mengalirkan
suatu gas ke dalam zat cair yang mengandung pembuih.
Buih digunakan pada berbagai proses, misalnya buih sabun pada pe-
ngolahan bijih logam, pada alat pemadam kebakaran, dan lain-lain. Adakalanya
buih tidak dikehendaki. Zat-zat yang dapat memecah atau mencegah buih,
antara lain eter, isoamil alkohol, dan lain-lain.

Gel
Koloid yang setengah kaku (antara padat dan
cair) disebut gel. Contoh: agar-agar, lem kanji, selai,
gelatin, gel sabun, dan gel silika. Gel dapat terbentuk
dari suatu sol yang zat terdispersinya mengadsorpsi
medium dispersinya, sehingga terjadi koloid yang
agak padat.






4. KOLOID DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan bahan-bahan kimia
berbentuk koloid. Bahan-bahan kimia tersebut dibuat oleh industri. Mengapa harus
koloid? Oleh karena koloid merupakan satu-satunya cara untuk menyajikan suatu
campuran dari zat-zat yang tidak saling melarutkan secara “homogen” dan stabil
(pada tingkat makroskopis atau tidak mudah rusak).

Industri Kosmetik
Bahan kosmetik, seperti foundation, pembersih
wajah, sampo, pelembap badan, deodoran umumnya
berbentuk koloid yaitu emulsi.




Industri Tekstil
Pewarna tekstil berbentuk koloid karena mem-
punyai daya serap yang tinggi, sehingga dapat
melekat pada tekstil.









Industri Sabun dan Detergen
Sabun dan detergen merupakan emulgator untuk
membentuk emulsi antara kotoran (minyak) dengan
air, sehingga sabun dan detergen dapat member-
sihkan kotoran, terutama kotoran dari minyak.










Industri Makanan
Banyak makanan dikemas dalam bentuk koloid
untuk kestabilan dalam jangka waktu cukup lama.
Dapatkah Anda menyebutkan contoh koloid dalam
industri makanan?











5. SIFAT-SIFAT SISTEM KOLOID

A. EFEK TYNDALL

Bagaimanakah cara mengenali sistem koloid? Salah satu cara yang sangat
sederhana adalah dengan menjatuhkan seberkas cahaya (transparan), sedangkan
koloid menghamburkannya. Oleh karena itu, berkas cahaya yang melalui koloid
dapat diamati dari arah samping, walaupun partikel koloidnya sendiri tidak
tampak. Jika partikel terdispersinya juga kelihatan, maka sistem itu bukan koloid
melainkan suspensi.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita se-
ring mengamati efek Tyndall ini, antara lain:
1. Sorot lampu mobil pada malam yang
berkabut.
2. Sorot lampu proyektor dalam gedung
bioskop yang berasap atau berdebu.
3. Berkas sinar matahari melalui celah
daun pohon-pohon pada pagi hari yang
berkabut.




B.   GERAK BROWN

Telah disebutkan bahwa partikel koloid dapat menghamburkan cahaya.
Jika diamati dengan mikroskop ultra, di mana arah cahaya tegak lurus dengan
sumbu mikroskop, akan terlihat partikel koloid senantiasa bergerak terus-
menerus dengan gerak patah-patah (gerak zig-zag). Gerak zig-zag partikel
koloid ini disebut gerak Brown, sesuai dengan nama penemunya, seorang ahli
biologi Robert Brown berkebangsaan Inggris.
Dalam suspensi tidak terjadi gerak Brown karena ukuran partikel cukup
besar, sehingga tumbukan yang dialaminya setimbang. Partikel zat terlarut
juga mengalami gerak Brown, tetapi tidak dapat diamati. Makin tinggi suhu
makin cepat gerak Brown karena energi kinetik molekul medium meningkat,
sehingga menghasilkan tumbukan yang lebih kuat.
Gerak Brown merupakan salah satu faktor yang menstabilkan koloid. Oleh
karena bergerak terus-menerus, maka partikel koloid dapat mengimbangi gaya
gravitasi, sehingga tidak mengalami sedimentasi.


C. MUATAN KOLOID

1. Elektroforesis
Elektroforesis adalah pergerakan partikel koloid dalam medan listrik.
Apabila ke dalam sistem koloid dimasukkan dua batang elektrode, kemudian
dihubungkan dengan sumber arus searah, maka partikel koloid akan bergerak
ke salah satu elektrode bergantung pada jenis muatannya. Koloid bermuatan
negatif akan bergerak ke anode (elektrode positif), sedangkan koloid yang
bermuatan positif bergerak ke katode (elektrode negatif). Dengan demikian,
elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan koloid.

2. Adsorpsi
Bagaimanakah partikel koloid mendapatkan muatan listrik? Partikel
koloid memiliki kemampuan menyerap ion atau muatan listrik pada
permukaannya. Oleh karena itu, partikel koloid menjadi bermuatan listrik.
Penyerapan pada permukaan ini disebut adsorpsi (jika penyerapan sampai
ke bawah permukaan disebut absorpsi). Sebagai contoh, penyerapan air oleh
kapur tulis). Sol Fe(OH)3
 larutan
ke dalam air
l Fe(OH)
 dalam air mengadsorpsi ion positif sehingga
bermuatan positif, sedangkan sol As2S3 mengadsorpsi ion negatif sehingga
bermuatan negatif
Muatan koloid juga merupakan faktor yang menstabilkan koloid, di
samping gerak Brown. Oleh karena bermuatan sejenis maka partikel-partikel
koloid saling tolak-menolak, sehingga terhindar dari pengelompokan antar-
sesama partikel koloid itu (jika partikel koloid itu saling bertumbukan dan
kemudian bersatu, maka lama-kelamaan dapat terbentuk partikel yang cukup
besar dan akhirnya mengendap).
Sifat adsorpsi koloid ini telah dipergunakan dalam bidang lain, misalnya
pada proses pemurnian gula tebu, pembuatan obat norit, dan proses pen-
jernihan air minum.

3. Koagulasi
Apabila muatan suatu koloid dilucuti, maka kestabilan koloid tersebut
akan berkurang dan dapat menyebabkan koagulasi atau penggumpalan.
Pelucutan muatan koloid dapat terjadi pada sel elektroforesis atau jika
elektrolit ditambahkan ke dalam sistem koloid.
Koagulasi koloid karena penambahan elektrolit terjadi sebagai berikut.
Koloid yang bermuatan negatif akan menarik ion positif (kation), sedangkan
koloid yang bermuatan positif akan menarik ion negatif (anion). Ion-ion
tersebut akan membentuk selubung lapisan kedua. Apabila selubung lapisan
kedua itu terlalu dekat, maka selubung itu akan menetralkan muatan koloid
sehingga terjadi koagulasi. Makin besar muatan ion makin kuat daya tarik-
menariknya dengan partikel koloid, sehingga makin cepat terjadi koagulasi.
Beberapa contoh koagulasi dalam kehidupan sehari-hari dan industri
sebagai berikut:
a. Pembentukan delta di muara sungai terjadi
karena koloid tanah liat (lempung) dalam air
sungai mengalami koagulasi ketika bercampur
dengan elektrolit dalam air laut.
b. Karet dalam lateks digumpalkan dengan me-
nambahkan asam format.
c. Lumpur koloidal dalam sungai dapat digumpal-
kan dengan menambahkan tawas. Sol tanah liat
dalam air sungai biasanya bermuatan negatif,
sehingga akan digumpalkan oleh ion Al3+ dari
tawas (aluminium sulfat).
d. Asap atau debu dari pabrik dan industri dapat
digumpalkan dengan alat koagulasi listrik dari
Cottrel.
Asap dari pabrik sebelum meninggalkan cerobong asap dialirkan melalui
ujung-ujung logam yang tajam dan bermuatan pada tegangan tinggi (20.000
sampai 75.000 volt). Ujung-ujung yang runcing akan mengionkan molekul-
molekul dalam udara. Ion-ion tersebut akan diadsorpsi oleh partikel asap
dan menjadi bermuatan. Selanjutnya, partikel bermuatan itu akan tertarik
dan diikat pada elektrode yang lainnya. Pengendap Cottrel ini banyak di-
gunakan dalam industri untuk dua tujuan, yaitu mencegah polusi udara oleh
buangan beracun dan memperoleh kembali debu yang berharga (misalnya
debu logam).


4. Pengolahan Air Bersih
Pengolahan air bersih didasarkan pada sifat-sifat koloid, yaitu koagulasi
dan adsorpsi. Air sungai atau air sumur yang keruh mengandung lumpur
koloidal dan barang kali juga zat-zat warna, zat pencemar, seperti limbah
detergen, dan pestisida. Bahan-bahan yang diperlukan untuk pengolahan
air adalah tawas (aluminium sulfat), pasir, klorin atau kaporit, kapur tohor,
dan karbon aktif. Tawas berguna untuk menggumpalkan lumpur koloidal
sehingga lebih mudah disaring. Tawas juga membentuk koloid Al(OH)3 yang
dapat mengadsorpsi zat-zat warna atau zat-zat pencemar, seperti detergen
dan pestisida. Apabila tingkat kekeruhan air yang diolah terlalu tinggi, maka
digunakan karbon aktif di samping tawas. Pasir berfungsi sebagai penyaring.
Klorin atau kaporit berfungsi sebagai pembasmi hama (sebagai disinfektan),
sedangkan kapur tohor berguna untuk menaikkan pH, yaitu untuk menetral-
kan keasaman yang terjadi karena penggunaan tawas.
Pengolahan air bersih di kota-kota besar pada prinsipnya sama dengan
pengolahan air sederhana yang dijelaskan di atas. Mula-mula air sungai
dipompakan ke dalam bak prasedimentasi. Di sini lumpur dibiarkan
mengendap karena pengaruh gravitasi. Lumpur dibuang dengan pompa,
sedangkan air selanjutnya dialirkan ke dalam bak ventury. Pada tahap ini
dicampurkan tawas dan gas klorin (preklorinasi). Pada air baku yang
kekeruhan dan pencemarannya tinggi, perlu dibubuhkan karbon aktif yang
berguna untuk menghilangkan bau, warna, rasa, dan zat organik yang
terkandung dalam air baku. Dari bak ventury, air baku yang telah dicampur
dengan bahan-bahan kimia dialirkan ke dalam  accelator. Di dalam bak
accelator ini terjadi proses koagulasi, lumpur dan kotoran lain menggumpal
membentuk flok-flok yang akan mengalami sedimentasi secara gravitasi.
Selanjutnya, air yang sudah setengah bersih dialirkan ke dalam bak saringan
pasir. Pada saringan ini, sisa-sisa flok akan tertahan. Dari bak pasir diperoleh
air yang sudah hampir bersih. Air yang sudah cukup bersih ini ditampung
dalam bak lain yang disebut  siphon, di mana ditambahkan kapur untuk
menaikkan pH dan gas klorin (postklorinasi) untuk mematikan hama. Dari
bak siphon, air yang sudah memenuhi standar air bersih selanjutnya dialirkan
ke dalam reservoar, kemudian ke konsumen.


D.  KOLOID PELINDUNG

Pada beberapa proses, suatu koloid harus dipecahkan. Misalnya, koagulasi
lateks. Di lain pihak, koloid perlu dijaga supaya tidak rusak. Suatu koloid
dapat distabilkan dengan menambahkan koloid lain yang disebut  koloid
pelindung. Koloid pelindung ini akan membungkus partikel zat terdispersi,
sehingga tidak dapat lagi mengelompok.
Contoh:
1. Pada pembuatan es krim digunakan
gelatin untuk mencegah pemben-
tukan kristal besar es atau gula.
2. Cat dan tinta dapat bertahan lama
karena menggunakan suatu koloid
pelindung.
3. Zat-zat pengemulsi, seperti sabun dan
detergen, juga tergolong koloid
pelindung.

E.    DIALISIS

Pada pembuatan suatu koloid, sering kali terdapat ion-ion yang dapat
mengganggu kestabilan koloid tersebut. Ion-ion pengganggu ini dapat
dihilangkan dengan suatu proses yang disebut dialisis. Dalam proses ini, sistem
koloid dimasukkan ke dalam suatu kantong koloid, lalu kantong koloid itu
dimasukkan ke dalam bejana yang berisi air mengalir. Kantong koloid terbuat
dari selaput  semipermiabel, yaitu selaput yang dapat melewatkan partikel-
partikel kecil, seperti ion-ion atau molekul sederhana, tetapi menahan koloid.
Dengan demikian, ion-ion keluar dari kantong dan hanyut bersama air.


6. KOLOID LIOFIL DAN KOLOID LIOFOB

Koloid yang memiliki medium dispersi cair dibedakan atas koloid liofil dan
koloid liofob. Suatu koloid disebut koloid liofil apabila terdapat gaya tarik-menarik
yang cukup besar antara zat terdispersi dengan mediumnya. Liofil berarti suka
cairan (Yunani: lio = cairan, philia = suka). Sebaliknya, suatu koloid disebut koloid
liofob jika gaya tarik-menarik tersebut tidak ada atau sangat lemah. Liofob berarti
tidak suka cairan (Yunani: lio = cairan, phobia = takut atau benci). Jika medium
dispersi yang dipakai adalah air, maka kedua jenis koloid di atas masing-masing
disebut koloid hidrofil dan koloid hidrofob.
Contoh:
• Koloid hidrofil: sabun, detergen, agar-agar, kanji, dan gelatin.
• Koloid hidrofob: sol belerang, sol Fe(OH)3, sol-sol sulfida, dan sol-sol logam.
Koloid liofil/hidrofil lebih mantap dan lebih kental daripada koloid liofob/
hidrofob. Butir-butir koloid liofil/hidrofil membungkus diri dengan cairan/air
mediumnya. Hal ini disebut solvatasi/hidratasi. Dengan cara itu butir-butir koloid
tersebut terhindar dari agregasi (pengelompokan). Hal demikian tidak terjadi pada
koloid liofob/hidrofob. Koloid liofob/hidrofob mendapat kestabilan karena meng-
adsorpsi ion atau muatan listrik. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa muatan koloid
menstabilkan sistem koloid.
Sol hidrofil tidak akan menggumpal pada penambahan sedikit elektrolit. Zat
terdispersi dari sol hidrofil dapat dipisahkan dengan pengendapan atau penguapan.
Apabila zat padat tersebut dicampurkan kembali dengan air, maka dapat membentuk
kembali sol hidrofil. Dengan perkataan lain, sol hidrofil bersifat  reversibel.
Sebaliknya, sol hidrofob dapat mengalami koagulasi pada penambahan sedikit
elektrolit. Sekali zat terdispersi telah dipisahkan, tidak akan membentuk sol lagi
jika dicampur kembali dengan air. Perbedaan sol hidrofil dengan sol hidrofob
disimpulkan sebagai berikut.

No.
Sol Hidrofil
Sol Hidrofob
1
2
3

4
5
6
Mengadsorpsi mediumnya
Dapat dibuat dengan konsentrasi yang relatif besar
Tidak mudah digumpalkan dengan penambahan elektrolit

Viskositas lebih besar daripada mediumnya
Bersifat reversibel
Efek Tyndall lemah
Tidak mengadsorpsi mediumnya
Hanya stabil pada konsentrasi kecil
Mudah menggumpal pada penambahan elektrolit
Viskositas hampir sama dengan mediumnya
Tidak reversibel
Efek Tyndall lebih jelas


7. PEMBUATAN SISTEM KOLOID

Sistem koloid dapat dibuat dengan pengelompokan (agregasi) partikel larutan
sejati atau menghaluskan bahan dalam bentuk kasar, kemudian diaduk dengan
medium pendispersi. Cara yang pertama disebut cara kondensasi, sedangkan yang
kedua disebut cara dispersi.

A. CARA KONDENSASI

Dengan cara kondensasi, partikel larutan sejati (molekul atau ion) ber-
gabung menjadi partikel koloid. Cara ini dapat dilakukan dengan reaksi-reaksi
kimia, seperti reaksi redoks, hidrolisis, dan dekomposisi rangkap, atau dengan
pergantian pelarut.
1. Reaksi Redoks
Reaksi redoks adalah reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi.
Contoh 1:
Pembuatan sol belerang dari reaksi antara hidrogen sulfida (H2S) dengan
belerang dioksida (SO2), yaitu dengan mengalirkan gas H2S ke dalamlarutan SO2.
2 H2S(g)   +   SO2(aq) ⎯⎯ → 2 H2O(l)    +   3 S (koloid)
Contoh 2:
Pembuatan sol emas dari reaksi antara larutan HAuCl4 dengan larutanK2CO3
 dan HCHO (formaldehida).
2 HAuCl4
(aq)+6 K2CO3
(aq) +  3 HCHO(aq) ⎯⎯2 Au(koloid) + 5 CO2(g) + 8 KCl(aq) + KHCO3(aq) + 2 H2O(l)
2. Hidrolisis
Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air.
Contoh:
Pembuatan sol Fe(OH)3 dari hidrolisis FeCl3
. Apabila ke dalam air mendidih ditambahkan larutan FeCl3
, maka akan terbentuk sol Fe(OH)3.
FeCl3(aq)   + 3 H2O(l) ⎯⎯ → Fe(OH)3(koloid) + 3 HCl(aq)
3. Dekomposisi Rangkap
Contoh 1:
Sol As2S3
 dapat dibuat dari reaksi antara larutan H3AsO3 dengan larutanH2S.
2 H3AsO3(aq)  +  3 H2S(aq) ⎯⎯ → As2S3(koloid) + 6 H2O(l)
Contoh 2:
Sol AgCl dapat dibuat dengan mencampurkan larutan perak nitrat encer
dengan larutan HCl encer.
AgNO3(aq)    +  HCl(aq) ⎯⎯ → AgCl(koloid)  +  HNO3(aq)
4. Penggantian Pelarut
Selain dengan cara-cara kimia seperti di atas, koloid juga dapat terjadi
dengan penggantian pelarut.
Contoh:
Apabila larutan jenuh kalsium asetat dicampur dengan alkohol, maka
akan terbentuk suatu koloid berupa gel.




B.   CARA DISPERSI

Dengan cara dispersi, partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid. Cara
dispersi dapat dilakukan secara mekanik, peptisasi, atau dengan loncatan bunga
listrik (cara busur Bredig).

1. Cara   Mekanik
Menurut cara ini, butir-butir kasar digerus dengan lumping atau peng-
giling koloid sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu, kemudian diaduk
dengan medium dispersi.
Contoh:
Sol belerang dapat dibuat dengan menggerus serbuk belerang bersama-
sama dengan suatu zat inert (seperti gula pasir), kemudian mencampur
serbuk halus itu dengan air.

2. Cara Peptisasi

Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari
suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah). Zat
pemeptisasi memecahkan butir-butir kasar menjadi butir-butir koloid. Istilah
peptisasi dikaitkan dengan  peptonisasi, yaitu proses pemecahan protein
(polipeptida) yang dikatalisis oleh enzim pepsin.
Contoh:
Agar-agar dipeptisasi oleh air, nitroselulosa oleh aseton, karet oleh
bensin, dan lain-lain. Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S dan endapan
Al(OH)3 oleh AlCl3.

3. Cara Busur Bredig

Cara busur Bredig digunakan untuk membuat sol-sol logam. Logam
yang akan dijadikan koloid digunakan sebagai elektrode yang dicelupkan
dalam medium dispersi, kemudian diberi loncatan listrik di antara kedua
ujungnya. Mula-mula atom-atom logam akan terlempar ke dalam air, lalu
atom-atom tersebut mengalami kondensasi, sehingga membentuk partikel
koloid. Jadi, cara busur ini merupakan gabungan cara dispersi dan cara
kondensasi.


C. KOLOID ASOSIASI

Berbagai jenis zat, seperti sabun dan detergen, larut dalam air tetapi tidak
membentuk larutan, melainkan koloid. Molekul sabun atau detergen terdiri
atas bagian yang polar (disebut  kepala) dan bagian yang nonpolar (disebut
ekor).



Kepala sabun adalah gugus yang hidrofil (tertarik ke air), sedangkan gugus
hidrokarbon bersifat hidrofob (takut air). Jika sabun dilarutkan dalam air, maka
molekul-molekul sabun akan mengadakan asosiasi karena gugus nonpolarnya
(ekor) saling tarik-menarik, sehingga terbentuk partikel koloid (lihat gambar
9.13).
Daya pengemulsi dari sabun dan detergen juga disebabkan oleh aksi yang
sama. Gugus nonpolar dari sabun akan menarik partikel kotoran (lemak) dari
bahan cucian, kemudian mendispersikannya ke dalam air. Sebagian bahan
pencuci, sabun, dan detergen bukan saja berfungsi sebagai pengemulsi, tetapi
juga sebagai pembasah atau penurun tegangan permukaan. Air yang me-
ngandung sabun atau detergen mempunyai tegangan permukaan yang lebih
rendah, sehingga lebih mudah meresap pada bahan cucian.






























MATERI
SISTEM KOLOID

Tidak ada komentar:

Posting Komentar